InstaGram!




Inner Yang Ayun Pakai - Hanya inner Ayunar

Click Below Picture untuk order :)


Sunday, December 2, 2012

Kebergantungan

Assalamualaikum.... Tiba tiba perkataan kebergantungan terpacul dalam fikiran saya tatkala tengah relax2 main game pool kat tab.

Saya fikir, sy ni masih bergantung pd suami, mak ayah, masih bergantung pd adik beradik sy, masih bergantung pada staff... Ataupun itu semua bukanlah erti kebergantungan sebenar tetapi hanya rutin untuk melengkapkan kehidupan seharian... Hmmm

Lalu saya google perkataan "kebergantungan"

Dan keluarlah keyword search ini " kebergantungan kepada allah "

Saya kongsikan artikel ini untuk bacaan bersama.

Rasa lemah.
Sudahkah kita memohon kekuatan daripada Allah?
Ada kalanya, kita diuji dengan ujian yang teramat beratnya.Ujian yang mampu membuat kita terduduk atau tersungkur.Kita mahu bangkit, namun rasa lemah menguasai diri. Bahkan, kita rasa, jalan penyelesaian keluar itu seolah-olah tiada.Lantas, satu perasaan itu mancul."Aku tidak mampu."Itu apa yang kita rasa. Lalu, perasaan itu membawa kita kepada suatu tindakan lain.Berputus asa.Namun, benarkah bahawa kita tidak mampu?Manusia Itu Diuji Sesuai Mengikut KemampuanSesungguhnya, manusia itu hanya akan diuji sesuai mengikut kemampuannya. Sehebat mana pun sesuatu ujian itu, sesukar mana pun ia di mata kita, percayalah, bahawa kita sebenarnya mampu untuk menghadapinya.

Sebagaimana janji Allah S.W.T dalam surah Al-Baqarah,"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." [Surah Al-Baqarah, 2: 286]

Pengasihkan Allah? Allah itu tidak sekali-kali akan menzalimi hamba-hamba-Nya dengan memberi kita ujian-ujian yang melebihi tahap kemampuan kita. Tidak sekali-kali.Namun begitu, mengapa ada masanya, perasaan 'tidak mampu' itu muncul dalam diri kita?

Mengapa kadangkala, kita rasa seperti diri kita telah direnggut segala daya dan upaya?Kembalikan Ujian Itu Kepada Yang MenciptakannyaPada saya, rasa 'tidak mampu' itu muncul, apabila kita, makhluk ciptaan-Nya, tidak kembalikan masalah atau ujian itu kepada Allah.Ya. Tatkala diuji, manusia itu seringkali meletakkan kepercayaan atas keupayaan dirinya terlebih dahulu, berbanding meletakkan pergantungan kepada Allah. Lantas, apabila sesekali Dia menguji kita dengan ujian yang tidak terduga, jadilah kita tersentap, lalu diam terduduk.Sebaliknya, bagi orang-orang yang beriman, bukan itu caranya mereka berhadapan dengan ujian.Tatkala mereka diuji, ingatan mereka segera dikembalikan kepada Allah. Darinya, ketenangan dan kekuatan itu akan muncul.

Firman Allah dalam kitab-Nya,"Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya jualah kami akan dikembalikan). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."[Surah Al-Baqarah, 2: 155-157]

Maka, letakkan pergantungan dan keyakinan dirimu 'sepenuhnya' kepada Allah. Dengan izin-Nya, ujian yang berat itu akan terasa lebih ringan lagi.Bukankah ujian itu datang dari Allah, maka, kepada siapa lagi harus kita kembalikan, jika tidak kepada Yang Maha Mencipta?Bukankah kekuatan itu semuanya milik Allah, justeru, kepada siapa lagi harus kita meletakkan sepenuh pergantungan dan harapan, jika tidak kepada Yang Maha Berkuasa?

Hebatnya Keimanan Seorang Bilal

Menyentuh perihal keyakinan dan kebergantungan kepada Allah, suka saya bawakan satu kisah yang pada saya, amat baik untuk kita ambil pengajaran dan jadikan contoh teladan, iaitu daripada seorang sahabat Rasulullah S.A.W bernama Bilal bin Rabah

Bilal bin Rabah ini pada asalnya merupakan hamba sahaya kepada tuannya, Umayah bin Khalaf, seorang tokoh kepada Bani Jumah.Pada suatu hari, Umayah bin Khalaf telah mendapat berita bahawa, hambanya, Bilal bin Rabah telah memeluk Islam. Umayah yang sebelum itu telah berkali-kali menyatakan kebenciannya terhadap agama yang dibawa Muhammad S.A.W itu, merasa terhina dengan keislaman hambanya, apatah lagi dengan kedudukan yang dia ada pada ketika itu.Disebabkan itu, Bilal diseksa dan diseksa dengan sungguh kejam. Bilal dibaringkan di atas kehangatan padang pasir yang menyengat, lalu ditindih dengan batu besar yang juga panas, dengan tujuan agar Bilal meninggalkan agamanya. Sakitnya seksaan itu seperti berada di antara dua bara api.Para penyeksa berkata padanya, "Sebutlah tuhan Lata dan tuhan Uzza." Jika Bilal menuruti, beliau akan terlepas dari diseksa lagi.Namun, adakah beliau menuruti? Tidak.Sebaliknya, apa pula yang terbit dari bibirnya "Ahad, Ahad," Yang Esa, Yang Esa.Subhanallah.

Dapatkah kita lihat betapa kuatnya keyakinan Bilal kepada Allah?Ujian yang ditimpa ke atasnya, cukup hebat, bahkan, amat jauh lebih berat jika dibandingkan dengan segala ujian-ujian yang kita pernah hadapi.Lalu, kepada siapa dia mengembalikan urusan itu semua? Allah.Bagaimana beliau beroleh kekuatan untuk menghadapi ujian yang ditimpakan ke atasnya? Bergantung harap kepada Allah.Bahkan, seksaan-seksaan yang dikenakan ke atas Bilal itu bukanlah hanya sehari. Malah, berhari-hari lamanya. Ditambah, seksaan-seksaan dalam bentuk lain juga turut dikenakan, seperti diikat pada tiang, dan dilemparkan dengan batu-batu, dipukul dan sebagainya.Lahaulawala quwatta illa billah.Di situ, kita dapat lihat. Tabah, istiqamah dan teguhnya seorang Bilal bin Rabah. Dan semua itu hadir, tidak lain dan tidak bukan, atas kebergantungan dan keyakinannya kepada Allah. Yang Maha Perkasa.

Apakah manusia itu melihat?PenutupAllah itu ada untuk membantu kita, cuma kita yang jarang mendekati-Nya.Dari Abu Hurairah R.A, Rasulullah S.A.W bersabda,"Allah Azzawajalla berfirman dalam Hadis Qudsi: "Aku adalah menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku akan selalu bersertanya selama ia mengingat pada-Ku. Demi Allah, nescayalah Allah itu lebih gembira kepada taubatnya seseorang hamba-Nya daripada seseorang di antara engkau semua yang menemukan sesuatu bendanya yang telah hilang di padang yang luas. Barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat padaKu dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hambaKu itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas."[Muttafaq 'alaih]

Kita rasa lemah.
Kita rasa tidak mampu.
Kita rasa hopeless.

Namun, sudahkah kita kembalikan ujian itu kepada Allah?Bukankah Allah itu telah berjanji bahawa Dia sentiasa bersama dengan mereka yang berusaha untuk bergerak mendekatiNya?Dan adakah sesiapa yang lebih tepat janjinya, berbanding Allah? Tiada.Sungguh, tatkala kita diuji, di masa rasa lemah itu menyapa kita, Allah itu sentiasa ada untuk membantu hamba-hambaNya. Cuma terkadang, kita sahaja yang jarang berusaha untuk mendekati-Nya.

Justeru, di saat diri merasa lelah dan tidak mampu,Kembalikanlah jiwamu kepada Allah.
Sepenuhnya.
Dan jangan ditangguh-tangguhkan lagi. Ayuh!Lalu, dari-Nya kau akan merasakan, kekuatan itu akan kembali hadir, dan mula bercambah di dalam jiwamu.

Dengan izin Allah, semestinya.

Sumber artikel : http://www.iluvislam.com/inspirasi/motivasi/3018-aku-tidak-mampu.html

Dengan izin Allah... In sya Allah..

5 comments:

  1. posting yg menarik..saya juga sedang melalui dugaan yg rasa mcm tak mampu nak lalui lps baca posting ayun,rasa lega sikit

    ReplyDelete
  2. Nice blog :)
    salam kenal sobat :)
    bagi - bagi motivasi
    semoga bisa jadi semangat
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT.Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :) terima kasih ....

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...